-->

Latest News

Tampilkan postingan dengan label PR MEDPRO KATAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PR MEDPRO KATAK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2016

[ VIDEO ] Ayo Intip Latihan KataK!


apalah teater tanpa para pemain musik heheheheh!
intip latihan musik teater katak di video dibawah ini!









eits!
komunikasi dalam teater memang banyak jenisnya! tapi, dialog tetap nomor 1!
intip serunya latian dialog dalam video dibawah ini! ^^


Rabu, 08 Juni 2016

#TIPS: Akting dan Pendalaman Peran a la Teater Katak!


Akting dan Pendalaman Peran a la Teater Katak!



Pementasan teater katak – kebun ceri


Bermain peran atau berakting, banyak orang yang berpikir kalau bermain peran atau berakting dalam teater adalah hal yang mudah, menyenangkan bahkan. Namun, tidak semua orang menggangap itu mudah dan menyenangkan. Ada juga yang menganggap, bermain peran atau berakting dalam teater adalah suatu tantangan yang mungkin tidak dapat mereka ambil atau mereka taklukan.

Pertanyaannya adalah, kenapa banyak yang merasa kalau bermain peran atau akting dalam teater adalah hal yang sulit? Usut dicari kusut, ternyata banyak yang berkata bermain peran atau berakting dalam teater ini sulit karena ‘berubah menjadi orang lain bukanlah hal yang mudah’ atau bisa kita bilang ‘pendalaman karakter itu sulit!’.

Memang tidak mudah untuk berakting atau mendalami sebuah peran dalam sebuah teater, karena tidak seperti syuting sinetron yang bisa di-take berkali-kali. Pementasan sebuah teater, tidak bisa ditake secara berkali-kali, dan hal itulah yang menjadi masalah untuk kebanyakan orang. Masih banyak orang yang takut untuk berbuat salah saat melakukan sesuatu, apa lagi ditonton banyak orang, seperti halnya teater. Padahal jika kita mau belajar dan berani mencoba, ketakuatan anda bisa sangat berkurang dan bisa mendapat pengalaman baru.

Nah, pada kolom ini, kami ingin memberikan beberapa pembelajaran untuk kalian yang tertarik untuk berakting! Teater katak memiliki beberapa cara untuk kalian agar kalian bisa dengan mudah mendalami peran atau karakter tokoh yang kalian perankan! Ayo kita lihat.


[ Pementasan arture / gabungan ukm budaya UMN 2015. ]



Pertama! Kalian bisa meresearch atau mencari tahu tentang tokoh yang akan kalian perankan, seperti bertanya kepada penulis naskah, bertanya apakah sebenarnya watak dan kebiasaan sang tokoh, atau bahkan kalian bisa bertanya sebenarnya emosi seperti apa yang pembuat naskah dan sutradara inginkan untuk tokoh tersebut, atau mungkin menonton filmnya jika teater yang kalian jalankan adalah teater adptasi.

Kedua! Image Training, fokuskan pikiran kalian kepada hasil research kalian, karakter, kebiasaan dan lainnya lalu coba terapkan kedalam permainan peran kalian, atau untuk latihan coba untuk berlatih menerapkan image tersebut dalam keseharian anda.


                                [ Pementasan arture / gabungan ukm budaya UMN 2015. ]



Ketiga! Hal yang paling penting dalam bermain teater adalah saat hari pementasan atau hari eksekusi, untuk lebih mendalami peran yang kalian mainkan dan membuat hari pementasan kalian bagus, kalian harus bisa berlatih dengan serius dan fokus bukan? Untuk lebih mendalami karakter, teater katak memiliki metode “silencium” atau waktu diam. Sebelum latihan, atau sebelum pentas ambilah waktu untuk menyendiri selama beberapa menit dan pejamkan mata kalian, fokuskan pikiran ke tokoh kalian, fokuskan pikiran kalian apa yang harus kalian lakukan dipanggung nanti, dan hal-hal yang bisa membuat kalian tenang dan fokus untuk pementasan nanti.

Keempat! Be brave! Jadilah berani! Kalahkan ketakutan kalian! Karena itu adalag cara termudah untuk bisa bermain peran atau berakting!. Kalahkan ketakutan kalian untuk berbuat salah, dan usahakan yang terbaik. Practice made perfect!. Mulai sekarang, beranilah ambil bagian dalam permainan peran, dan kalahkan ketakutan kalian untuk melakukan kesalahan!.


[ Pementasan teater katak – kebun ceri ]



Kita semua pernah berbuat salah, dan kesalahan itu adalah hal yang lumrah jika kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kesalahan kita dan tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua atau bahkan ketiga kalinya.


Have fun being another person!





Narasumber : Wardana – UKM Teater Katak.

Jumat, 27 Mei 2016

#THROWBACK: PEMENTASAN KEBUN CERI

Teater KATAK membawakan pementasan "Kebun Ceri" pada 23-24 Mei 2015 di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Kebun Ceri ini merupakan produksi yang ke-37 dari Teater Katak.

Venantius Vladimir Ivan, sebagai sutradaranya mengadaptasi kisah tersebut dari naskah ‘The Cherry Orchard’ karya sastrawan Rusia, Anton Chekhov. Di dalamnya terdapat sentilan telak pada perilaku orang-orang yang tak lagi relevan dengan zaman.


Naskah The Cherry Orchard pertama kali dipentaskan di Moscow Art Theatre pada 17 Januari 1904. Mahaguru teater dunia, Konstantin Stanislavski, jadi sutradaranya. Walau Chekhov bermaksud menampilkannya sebagai kisah komedi, Stanislavski bersikeras untuk membawakannya sebagai tragedi.
Naskah ini merefleksikan kondisi sosial-ekonomi yang terjadi di Rusia pada saat itu. Pada 1861, terjadi reformasi emansipasi yang secara resmi menghapus status budak dalam Kekaisaran Rusia. Imbasnya, sekitar 23 juta budak mendapat hak untuk hidup sebagai warga negara yang bebas. Mereka bisa memiliki properti, mengelola bisnis, dan bahkan menikah tanpa harus meminta izin terlebih dahulu.
Ini membuat kaum bangsawan atau aristokrat terjepit. Perlahan, muncul kaum kelas menengah baru yang berhasil meraih sukses dengan kerja keras. Para aristokrat yang terbiasa hidup mewah dan bermalas-malasan mengandalkan status sosialnya pun terpaksa mesti menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Di awal abad ke-20, gerakan kaum sosialis terus menguat. Para buruh mogok kerja dan berunjuk rasa menuntut keadilan dari pemerintahan tirani Tsar, entah soal jam kerja, upah, dan lainnya. Revolusi pun terjadi pada 1905 dan 1917 hingga mendorong terbentuknya Uni Soviet pada 1922.
Chekhov berusaha memotret masalah ini dan mengangkatnya dalam The Cherry Orchard. Tokoh Lyubov dan keluarganya adalah representasi kaum aristokrat yang hidup dalam ilusi masa lalu nan gemilang, dengan kebun ceri sebagai penandanya.
Kebun ceri di sini adalah awal dan akhir. Ia mengisi dan memberi arti dalam setiap detail kenangan masa kecil Lyubov. Ia adalah kebanggaan, juga harga diri. Kehadirannya jadi penanda bagi kebesaran serta kejayaan Lyubov dan keluarganya. Karena itu selama kebun ceri berdiri tegak, harga diri Lyubov sebagai seorang aristokrat akan tetap terjaga.
Di Indonesia, tak jarang orang seperti Lyubov hadir dalam berbagai pemberitaan media massa. Orang-orang yang pernah mengisi jabatan penting dalam pemerintahan, atau bahkan artis yang telah pudar ketenarannya, bisa tiba-tiba muncul kembali dengan tindakan atau komentar nan kontroversial. Mereka tak sadar, mereka tak lagi relevan dengan zaman. Bukannya beradaptasi dengan kondisi sosial terkini, mereka kerap terjebak dalam kenangan megah masa silam dan berharap mendapat ruang gerak yang sama seperti dahulu.
 
Mereka lupa untuk keluar dari zona nyamannya.
Karena itu, Teater KATAK pun mencoba beranjak dari zona nyaman dan menjajal lakon realis dalam kemasan pentas besar dua bulan mendatang. Bukan hal mudah, tapi tak berarti tak mungkin untuk dilakukan.

Jumat, 20 Mei 2016

Makna Cerita di balik Pementasan Teater KataK




Kera Sakti: Tersasar Sembari Terpingkal


Biksu Xuanzang ingin dimangsa siluman/Witjak Widhi Cahya-Salihara


Kisah mengenai Kera Sakti, atau Sun Wukong dalam bahasa Mandarin, merupakan salah satu mitologi Cina klasik yang paling populer. Penelusuran jejak literaturnya dapat ditemukan dalam kisah Perjalanan Ke Barat (Journey to the West) di era Dinasti Ming pada abad ke-16. Kini, setelah lima abad berselang, kelompok teater asal Jepang Ryuzanji Company kembali membawakannya dalam pentas teater berjudul Kera Sakti di Teater Salihara, Pasar Minggu, pada 11-12 Maret 2016.
Kita berkali kali diingatkan, baik secara langsung maupun tidak, untuk tidak membawa ekspektasi dalam bentuk apa pun ketika hendak menyaksikan sebuah pertunjukan seni. Tentu saja diam-diam kita tahu bahwa hal tersebut mustahil. Kali ini misalnya, saat hendak menyaksikan pertunjukan Kera Sakti, setidaknya saya menaruh harap untuk menyaksikan kembali kisah Kera Sakti yang sempat tenar di layar televisi Indonesia pada era 1990an. Sun Go Kong, Cho Pat Kai, figur-figur heroik yang senantiasa menghiasi masa kecil saya akan kembali saya temui. Saya tidak begitu penasaran soal alur cerita, mengingat kisah ini memang sudah populer dan berkali-kali diadaptasi dalam berbagai format. Rasa penasaran saya mentok di gaya penceritaan yang akan dilakukan Ryuzanji Company.
Namun, rasa penasaran saya berlipat ganda seiring pementasan berlangsung. Padatnya komposisi adegan, ditambah penyajian artistik yang intens, membuat saya merasa berdosa besar apabila memutuskan untuk berkedip barang sejenak. Pementasan ini sesungguhnya cukup minimalis, tapi kepiawaian skenografer dan sutradara dalam mengemasnya membuat lakon Kera Sakti menjadi begitu mewah.



Rasetsu memamerkan kipas Basho Sen/Witjak WIdhi Cahya-Salihara


Sedikitnya ada beberapa faktor yang membuat pementasan ini layak disebut demikian: penempatan video mapping, kecakapan gestur para pelakon, serta dinamika adegan. Ketiga hal ini tentu bukan barang baru, bukan pula sebuah terobosan. Tidak sedikit pementasan yang menggunakan video mapping. Namun, berapa banyak yang mampu menerapkan teknik tersebut dengan rapi dan tepat guna?
Kera Sakti ala Ryuzanji Company menerapkan video mapping yang sederhana, tidak memukau secara berlebihan. Namun, penggunaannya tidak sekadar untuk menghiasi latar dan mempercantik set. Alih-alih, mereka menggunakannya sebagai metode naratif tersendiri. Dengan demikian, tidak hanya para pelakon yang bercerita lewat dialog, panggung pun ikut bercerita secara visual.
Kemudian, soal kecakapan gestur para pelakon yang dipadu dengan dinamika adegan. Kera Sakti ala Ryuzanji Company tidak menghadirkan kisah legendaris ini secara konvensional. Dinamika pementasan ini sudah mengentak sedari lampu padam. Adegan perang pun seketika berlangsung di panggung yang masih kosong pada detik sebelumnya, entah dari mana para pelakon itu berdatangan. Saya yakin tidak sedikit jumlah penonton yang masih sibuk mematikan telepon genggam ketika adegan pembuka ini muncul. Belum tuntas dengan kejutan ini, tidak lama penonton sudah terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah para pelakon.



Gestur komikal para pelakon/Witjak Widhi Cahya-Salihara


Sepanjang pementasan berlangsung, penonton disuguhi pengulangan adegan demi adegan dengan beberapa perubahan. Sutradara Tengai Amano dengan cerdik mengemas interval pembabakan dalam susunan tumpang tindih, lompat maju-mundur. Formula ini dipadu dengan kemampuan magis Kera Sakti yang dapat berubah wujud menjadi sosok lain, atau bahkan menduplikasi dirinya sendiri, yang pada akhirnya membawa penonton ikut terjebak (jika bukan tersasar) dalam petualangan Kera Sakti.
Di sisi lain, penonton boleh menganggap bahwa pementasan ini hanya sekadar mengambil latar kisah klasik Kera Sakti sebagai kerangka naratif. Namun pementasan ini lebih terasa seperti upaya mendekonstruksi lapis demi lapis sebuah mitologi klasik yang kemudian diartikulasikan kembali ke dalam struktur kontemporer. Ryuzanji Company tidak menghadirkan kisah Kera Sakti yang utuh, melainkan terpotong-potong, yang masing-masing potongannya dapat berdiri sebagai satu wacana tersendiri.
Hal menarik lainnya, pementasan ini dimainkan dalam bahasa Jepang dengan tambahan teks bahasa Indonesia di sisi atas latar panggung. Batas pemahaman antarbahasa ini tentu saja menjadi tantangan khusus. Penonton harus membagi fokus perhatian antara permainan dan teks agar dapat sepenuhnya mengerti konteks cerita. Namun lagi-lagi, kepiawaian para pelakon Kera Sakti memainkan gestur dan ekspresi mereka amat membantu penonton dalam memahami konteks. Ditambah dengan selentingan-selentingan bahasa lokal seperti "Aku bukan tuyul! Aku manusia!" atau "Anjing!" yang diucapkan dengan aksen Jepang.



Tambahan teks bahasa Indonesia di latar/Witjak Widhi Cahya-Salihara


Satu hal yang disayangkan (bahkan cukup mengganggu) ialah kehadiran Komunitas Marjinal di tengah-tengah cerita. Mereka muncul membawakan lagu “Rencong Marencong” bersamaan dengan sosok penari tampil sembari berpakaian adat Jawa. Entah apa kepentingan mereka dalam pementasan ini selain mengacaukan tempo pementasan tanpa terlibat dalam konstelasi cerita. Saya hanya bisa menduga kalau ini adalah siasat aman untuk rehat sejenak, tanpa perlu membuat penonton beranjak ke luar ruangan.

Jumat, 13 Mei 2016

BABAD KATAK

Halo para pecinta Teater. Kami ingin memperkenalkan salah satu Teater Kampus kepada kalian semua. Teater ini dikenal dengan sebutan Teater Katak, Apa itu Teater Katak?

Pada 2007, empat mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Gading Serpong, Tangerang, mendirikan komunitas bernama Anak UKM Teater UMN (AUTUMN) atas dasar kecintaan pada dunia seni peran. Mereka adalah Ciptoning Hestomo, Paramitha Devi, Schoollaus Daleru, dan Yosep Raharjo Sumanto.
Namun, sedikitnya jumlah anggota dan ketiadaan sosok pelatih terpaksa membuat teater ini vakum selama kurang lebih setahun. Barulah pada April 2009, mereka "hidup" kembali setelah diminta tampil dalam acara perayaan Paskah Grup Kompas Gramedia. Di bawah arahan pelatih baru, Venantius Vladimir Ivan Pratama, mereka sukses mementaskan naskah Sang Pemenang. Sejak itu, semangat mereka kembali membubung.
Pada 12 Juni 2009, teater ini diperkenalkan sebagai UKM resmi di UMN. Namanya pun berganti menjadi KataK, singkatan dari Komunitas Anak Teater Kampus. Mereka mengusung moto "Berani melompat lebih tinggi melewati batasan yang ada". Huruf 'K' kapital di awal dan akhir KataK menunjukkan keseimbangan pada diri tiap anggotanya dalam menjalani dunia di dalam dan luar seni peran.
Setelah dipimpin pertama kali oleh Ciptoning Hestomo, tongkat estafet berlanjut ke tangan Panji Wijaya, Riski Safaat, Dira Nararyya, Cynthia Puspitaningsih, Tommy Budiman, hingga Ditania Melivia Adiputri. Kini, Teater KataK telah berhasil mengumpulkan ratusan anggota (pemain dan kru), juga menghasilkan puluhan produksi pementasan.
Teater KataK berhasil meraih juara pertama dalam perlombaan Gen-X di Universitas Atma Jaya, Jakarta, pada November 2011 dengan membawakan naskah berjudul Waras. Lalu pada Maret 2012, kami bekerja sama dengan Teater Proloque untuk mengadakan pentas besar di luar kampus UMN untuk pertama kalinya berjudul Apakah Cinta Sudah Mati? di Gedung Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Jakarta. Tiga bulan berselang, kami juga turut serta dalam pentas kolaborasi untuk acara perayaan Pentakosta di Mega Glodok Kemayoran.
Apakah Cinta Sudah Mati? (Maret 2012)

Pada Maret 2013, Teater KataK kembali unjuk gigi dengan naskah Perkawinan hasil adaptasi Marriage karya sastrawan Rusia, Nikolai Gogol, di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Naskah ini dibawakan ulang tiga bulan berselang di Gedung Pusat Kebudayaan Rusia, Jakarta.

Perkawinan (Maret 2013)

Di awal 2014, Teater KataK memainkan naskah Joyful dalam rangka acara perayaan Natal oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta. Dua bulan setelahnya, Teater KataK sukses membawakan naskah Dokter Gadungan hasil adaptasi La Medecin malgre lui karya sastrawan Prancis, Molière, di Gedung Kesenian Jakarta.

Dokter Gadungan (Maret 2014)

Pada akhir Januari 2015, Teater KataK mementaskan Benarkah Cinta Sudah Mati? di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Ini adalah kelanjutan dari kisah Apakah Cinta Sudah Mati? yang dipentaskan tiga tahun sebelumnya.

Benarkah Cinta Sudah Mati? (Januari 2015)


Pada Mei 2015, Teater KataK pun sukses mementaskan Kebun Ceri hasil adaptasi naskah The Cherry Orchard karya sastrawan Rusia, Anton Chekhov.

Kebun Ceri (Mei 2015)

Lalu pada September 2015, Teater KataK mementaskan Hamlethasil adaptasi naskah berjudul sama karangan sastrawan Inggris, William Shakespeare.

Hamlet (September 2015)

Nahh tadi adalah sedikit sejarah dan beberapa pementasan yang telah dipentaskan oleh Teater Katak. sesuai dengan namanya Teater Katak maka, Teater ini menggunakan logo dengan gambar Katak yang dibuat 2. 

Logo 1 

Logo 2